Change Font Size

Change Screens

Change Layouts

Change Direction

Change Menu Styles

Cpanel
Perpustakaan
Monday, 07 April 2014 09:01

Lowongan PT. Suryajaya Abadiperkasa

Written by

Kami salah satu perusahaan industri pengalengan makanan berskala nasional dan export memberikan kesempatan berkarir pada posisi

PELAKSANA TEHNIK LISTRIK – AC (Pendingin)

Adapun persyaratan sebagai berikut :

  1. Laki – laki
  2. Usia max 25 tahun
  3. Lulusan SMK Jurusan Listrik dengan nilai rata – rata min.7
  4. Diutamakan yang berpengalaman dibidang AC (pendingin) min 2 tahun
  5. Sehat jasmani dan rohani
  6. Bisa Microsoft Office (word dan excel)



Jika kualifikasi anda memenuhi syarat yang ditentukan kirimkan curiculum vitae ke PT. Suryajaya Abadiperkasa Jl. Raya Surabaya Probolinggo Km.90 Banjarsari – Probolinggo  ( Telp. 0335-421172 , Fax 0335-424144 ) atau ke HRD PT.Suryajaya Abadiperkasa Tromol Pos 10 Probolinggo 67200 atau ke alamat email This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it  

Friday, 14 March 2014 00:00

lowongan PT BPR SENTRAL ARTA SEJAHTERA

Written by

DICARI KARYAWAN/KARYAWATI DENGAN KUALIFIKASI sebagai berikut:


1. Pria/ Wanita : Max 25 Tahun
2. Pendidikan : SLTA / Sederajat
3. Belum Menikah
4. Berpenampilan menarik, dapat bekerja dalam team, jujur
5. Bersedia di tempatkan di posisi apa saja
6. Memiliki motivasi untuk maju
7. Lamaran diterima paling lambat 21 maret 2014 cap pos

Lamaran dan CV lengkap dikirim ke:
PT BPR SENTRAL ARTA SEJAHTERA
JL. PB. SUDIRMAN NO 171 KRAKSAAN
NO TELP : 0335-841365

Tuesday, 17 September 2013 00:00

lowongan PT SURYA JAYA ABADI PERKASA

Written by

Membuka lowongan pekerjaan untuk jurusan Informatika dan Komputer

syarat:

  • Laki-laki
  • lulusan D3/S1 Informatika
  • usia max 30 th
  • mampu berbahasa inggris

 

Lamaran langsung dikirim ke PT SURYA JAYA ABADI PERKASA

Jl Surabaya KM 90, Banjarsari,  Probolinggo

paling lambat tanggal 23 september 2013

Saturday, 14 September 2013 00:00

Lowongan Pekerjaan PT INDOMARCO PRISMATAMA

Written by

 

Membuka lowongan kerja posisi:

1. PROJECT (KODE : PRJ)

Pria, Usia maks 25 thn SMK JURUSAN BANGUNAN, memahami program AUTOCAD, Belum menikah siap ditempatkan di jember

2. MAINTENANCE (KODE: MAINT)

Pria, Usia Maks 25 thn, SMK JURUSAN LISTRIK, memahami instalasi kelistrikan, belum menikah, siap ditempatkan di jember.

Fasilitas:

  • · Kesempatan menjadi pegawai tetap
  • · Gaji diatas UMK
  • · Jamsostek dan tunjangan kesehatan
  • · Beasiswa karyawan
  • · Lembur dan Tunjangan Hari Raya(THR)
  • · Dll

Kirimkan surat lamaran kerja dilengkapi Daftar Riwayat Hidup, Foto copy Ijasah, Transkrip Nilai, KTP, SKCK Kepolisian, Sertifikat Pendukung, foto berwarna 4x6 sebanyak 2 lembar, cantumkan no telp/hp yang bisa dihubungi

Lamaran di tujukan ke :

HRD PT. INDOMARCO PRISMATAMA CAB. JEMBER

RECRUTMENT & PLACEMENT

Jl. Piere Tendean No. 99 A, Sukorejo, Sumbersari Jember

Paling lambat tgl 25 September 2013

Info lebih jelas hubungi: Bpk. Saikhu Rifai 0856 49399517

 

 

Thursday, 22 August 2013 22:00

Lomba Foto 2013 Hadiah Total 50Jt

Written by

 

LOMBA FOTO PIALA BUPATI “JEMBER MULTI EVENT 2013? TOTAL HADIAH 50Juta

100 Foto terpilih akan dipamerkan di Alun-alun Jember.

30 orang (pemenang dan nominasi 30 besar terbaik) Akan Mendapatkan Kesempatan gratis untuk “Hunting Ke Taman Nasional Meru Betiri”. Semua biaya (akomodasi, transportasi, dan konsumsi) ditanggung oleh Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kab.  Jember dengan ketentuan setiap peserta menyerahkan 2 (dua) buah foto tentang TN. Meru Betiri sebagai bahan promosi dan publikasi)

Wednesday, 21 August 2013 00:00

Lowongan CPNS PDAM Surabaya

Written by

PDAM Surya Sembada Kota Surabaya yang akan menjalankan visi menjadi Perusahaan Air Minum yang mandiri, berwawasan global dan terbaik di Indonesia.

Perusahaan Daerah Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya, memberikan kesempatan kepada Warga Negara Indonesia untuk menjadi calon pegawai, dengan kualifikasi Pendidikan yang dibutuhkan :

Sunday, 31 March 2013 18:39

Biodata Warnoto, M.Pd

Written by

WARNOTO, M.Pd (KS SMK AHMAD YANI PROBOLINGGO)

CURRICULUM VITAE

1. Nama : WARNOTO, M.Pd

2. Tempat, Tanggal Lahir : Mojokerto, 17 Nopember 1968

3. Pendidikan & Pelatihan :

a. S1 FPTK IKIP Malang PendidikanTeknik Mesin 1993

b. S2 FPS UM Malang Manajemen Pendidikan, Konsentrasi Kepemimpinan Sekolah th 2009

c. S2 Sandwich Faculty of Educational Studies UPM Malaysia.School Leadership 2008

d. Kursus Pengurusan & Kepemimpinan Kepala Sekolah di IAB (Institut Aminudin Baki) Malaysia 2008

e. Sertifikat Pelatih untuk Diklat Calon Kepala Sekolah dari PMPTK dan LAN Jakarta. 2009

f. Sertifikat Pelatih Program Penguatan Kepala Sekolah Pusbang Tendik, BP SDMP dan PMP Jakarta th 2011

g. Sertifikat Pelatih untuk Diklat Calon Kepala Sekolah dari LPMP Jawa Timur 2011

h. Pembekalan Kepala Sekolah Berprestasi. Lawang Malang. LPMP Jatim. 2009

i. Kursus Bahasa Inggris. PDETC UM Malang. PPS UM Malang. 2008

j. Diklat “Peningkatan Kompetensi Servis Dasar Mobil. P3GT/VEDC Malang. 2001

k. Diklat Otomotif (Sistim Pengapian Elektronik dan Injeksi Bensin) VEDC Malang 2006

l. Diklat Kompetensi Kejuruan Tune-Up VEDC Malang 2004

4. PEKERJAAN:

a. Kepala SMK Ahmad Yani Probolinggo. 2007 sd sekarang

b. Instruktur Disnaker dan PPKT. 2006 sd 2009..

c. Ketua PPKT (Pusat Pelatihan Kejuruan Terpadu) Ahmad Yani. 2003 – 2007

d. Ketua Unit Produksi dan Jasa. SMK AhmadYani Probolinggo. 1999-2007

e. Guru SMK Ahmad Yani Probolinggo mulai 1 Maret 1994.

5. ORGANISASI:

a. Dewan Pendidikan Kota Probolinggo, Ketua Bidang SMA, MA & SMK. 2012 sd 2017

b. Anggota Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI) PGRI Kota Probolinggo, 2010-2015

c. Ketua MKKS SMK Swasta Kota Probolinggo. 2010-2013

d. Bendahara MKKS SMK N/S Kota Probolinggo 2011-2013

e. Ketua Ranting PGRI SMK Ahmad Yani. 2010 s.d 2015

6. PENELITIAN:

a. Kontribusi Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah, Keefektifan Komunikasi, dan Budaya Sekolah terhadap Kinerja Guru pada SMK di Kota Probolinggo. 2009

b. Upaya Meningkatkan Keaktifan dan Kemampuan Guru dalam Menyusun RPP di SMK Ahmad Yani Kota Probolinggo Melalui Kegiatan Workshop (PTS). 2011

c. Penerapan Pembelajaran Teman Sebaya pada Pembelajaran Praktik Tune-Up kelas 3MO1 SMK Ahmad Yani Probolinggo (PTK). 2007

7. PENGHARGAAN:

a. Satya Lencana Karya Satya 10 tahun dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono tahun 2012

b. Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat SMA/MA/SMK Negeri/Swasta dari Walikota Probolinggo tahun 2009

c. Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat SMA/MA/SMK Negeri/Swasta dari Walikota Probolinggo tahun 2011.

d. Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat SMK Negeri/Swasta dari Walikota Probolinggo tahun 2012

8. Telp. Kantor : (0335) 423035

9. E-mail : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

HP : 085230111225

 


PERAN DAN FUNGSI DEWAN PENDIDIKAN

DALAM PEMANTAUAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN

Warnoto

Dewan Pendidikan dan Kepala SMK Ahmad Yani Kota Probolinggo

(Makalah disampaikan pada Pelatihan Penyusunan Sistim dan Mekanisme Pelibatan Masyarakat dalam Pemantauan dan Evaluasi, Probolinggo, 3-4 Agustus 2012)

Pendidikan adalah karya bersama yang berlangsung dalam suatu pola kehidupan insani tertentu dengan suatu sistim yang dikelompokkan menjadi dua sistim yakni sistim mekanik dan sistim organik. Paradigma pendidikan lama memandang bahwa pendidikan berlangsung mengikuti sistim mekanik, yang melihat pendidikan sebagai suatu proses yang melibatkan input-proses-output dan terdapat hubungan kausal, bersifat langsung dan linier. Pandangan ini menunjukkan bahwa intervensi untuk mempengaruhi output dapat didesain dengan memanipulasi input. Sebagaimana diketahui input dalam proses pendidikan mencakup peserta didik, guru, kurikulum, materi pembelajaran, proses pembelajaran, sarana prasarana, pengelolaan dan kondisi lingkungan. Artinya, upaya untuk meningkatkan mutu output dapat dilakukan dengan menambah atau meningkatkan kualitas input.

Paradigma baru sistim pendidikan lebih ke organik yang melihat sistim pendidikan bukan dalam rangkaian input-proses-output yang bersifat mekanis dan linier saja. Melainkan juga melihat dampak input terhadap output yang tergantung pada bagaimana interaksi proses berbagai input tersebut berlangsung. Perubahan ini telah membuat pendidikan dasar dan menengah tidak hanya menekankan pada hasil akhir atau produk, tetapi proses; tidak berorientasi pada hasil keluaran, tetapi berorientasi pada proses dan konteks penghasilan keluaran. Implikasinya semua kegiatan dalam sendi-sendi pendidikan harus bermuara pada apa yang ideal untuk proses pembelajaran dan tidak boleh terlena perhatian kita pada pemenuhan dan peningkatan input saja, sementara proses terabaikan. Proses pembelajaran perlu menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar (student centered), dan pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila peserta didik sejahtera (menyenagkan dan menggairahkan).

Masyarakat dan praktisi pendidikan kebanyakan masih menggunakan pendekatan sistim mekanik, sehingga masih input yang jadi bidang garap perhatiannya dan biaya serta sarana prasarana yang jadi bahasannya. Kalau berbicara tentang sarana prasarana pasti tidak bisa lepas dengan pendanaan. Hal ini yang selalu jadi topik pembicaraan dan yang dipantau dan dievaluasi oleh masyarakat sehingga komite sekolah dan dewan pendidikan ikut larut di dalamnya, proses dan konteks penghasilan keluaran terabaikan.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Peserta didik akan belajar secara optimal jika sekolah mampu menyediakan pengalaman belajar. Proses Pembelajaran akan terjadi dengan baik bila dijadikan tujuan. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Dana Dari Pemerintah Dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan

Untuk meningkatkan mutu pendidikan kita perlu melihat dari banyak sisi. Telah banyak pakar pendidikan mengemukakan pendapatnya tentang faktor penyebab dan solusi mengatasi rendahnya mutu pendidikan di lndonesia. Dengan masukan ilmiah para ahli itu, pemerintah tak berdiam diri sehingga tujuan pendidikan nasional tercapai.

Masukan ilmiah yang disampaikan para ahli dari negara-negara yang berhasil menerapkannya, seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Selandia Baru dan Singapura selalu memunculkan konsep yang tidak selalu bisa diadopsi dan diadaptasi. Karena berbagai macam latar yang berbeda. Situasi, kondisi, latar budaya dan pola pikir bangsa kita, tentunya tidak sehomogen seperti negara-negara yang diteladani. Malahan, konsep yang di impor itu terkesan dijadikan sebagai “proyek” yang bertendensi pada kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Artinya, proyek bukan sebagai alat melainkan sebagai tujuan.

Beberapa penerapan pola peningkatan mutu di Indonesia telah banyak dilakukan, namun masih belum signifikan pada perbaikan mutu. Di antaranya adalah usaha peningkatan mutu dengan proyek tunjangan pendidik dari sertifikasi guru dengan harapan kinerjanya meningkat; perubahan kurikulum dan proyek peningkatan lain; Proyek Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), Proyek Perpustakaan, Proyek Bantuan Meningkatkan Manajemen Mutu (BOMM) sekarang ganti istilah R-BOS, Proyek Bantuan lmbal Swadaya (BIS), Proyek Pengadaan Buku Paket, Proyek Peningkatan Mutu Guru, Bantuan Operasioanal Sekolah (BOS) dan Bantuan Khusus Murid (BKM). Dengan memperhatikan sejumlah proyek itu, dapatlah kita simpulkan bahwa pemerintah telah banyak menghabiskan anggaran dana untuk membiayai proyek itu sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Dalam pelaksanaan teknis terkait dengan adanya tambahan beban biaya pendidikan yang harus ditanggung masyarakat, Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan sebaiknya harus lebih jeli, sehingga ada kepastian bahwa besarnya tambahan biaya yang harus ditanggung siswa/orangtua murid benar-benar diorientasikan untuk peningkatan kualitas pendidikan yang akan dirasakan oleh siswa, bukan orientasi yang lain.

Hal tersebut penting mengingat plafon anggaran yang diperuntukkan untuk masing-masing siswa meliputi:

a. Anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari Pemerintah, (Wajardiknas 9 tahun)

b. Anggaran Pendampingan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari Pemerintah Daerah Propinsi, (Wajardiknas 9 tahun)

c. Anggaran Pengembangan Sekolah dari Pemerintah Daerah Kabupaten, (Wajardiknas 9 tahun)

d. Bantuan Operasional Managemen Mutu (BOMM), yang sekarang menjelma menjadi R-BOS untuk sekolah menengah.

e. Bantuan Khusus Murid (BKM).

f. Sukses Ujian Akhir Nasional (UAN).

Kita berharap sekolah dapat menggunakan dana sepenuhnya untuk peningkatan mutu pendidikan dan menjunjung nilai-nilai kejujuran penggunaannya, jangan ada praktik korupsi. Korupsi itu berhubungan dengan dana yang berasal dari pemerintah dan dana yang langsung ditarik dari masyarakat. Jika selama ini anggaran pendidikan yang terbatas dikeluhkan, ternyata dana yang terbatas itupun tak luput dari korupsi. Hal ini tidak terlepas dari kekaburan sistem anggaran sekolah. Kekaburan dalam sistem anggaran (RAPBS/RKAS) itu memungkinkan kepala sekolah mempraktikkan Pembiayaan Sistem Ganda (PSG). Misalnya dana operasional pembelian barang yang telah dianggarkan dari dana pemerintah dibebankan lagi kepada masyarakat.

Untuk itu, tambahan dana dari orangtua murid/siswa baik dalam bentuk pungutan ataupun dengan dalih sumbangan masyarakat yang dikelola sekolah memang diluar kemampuan plafon anggaran yang diterima sekolah. Payung hukum Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah saat ini memang sudah kuat, yang kurang kuat adalah pelaksanaannya. Semua itu amat tergantung dari komitmen kita bersama untuk melaksanakan payung hukum tersebut, terutama siapa saja yang telah memperoleh mandat untuk menjadi pengurus Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.

Kita berharap, mudah-mudahan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah di masa depan dapat berkembang sebagaimana yang kita harapkan bersama, yakni berfungsi dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. (PP 17 th 2010 pasal 192 ayat 2).

Dewan Pendidikan

Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah merupakan wahana pemberdayaan masyarakat, selaras dengan konsepsi partisipasi berbasis masyarakat dan manajemen berbasis sekolah.
Landasan hukum lembaga Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah:

1. UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

2. Kepmendiknas Nomor 004/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.

3. PP Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Dalam PP Nomor 17 tahun 2010 menyebutkan bahwa Dewan Pendidikan Nasional di tetapkan oleh Mendiknas, Dewan Pendidikan Provinsi oleh Gubernur, Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota oleh Bupati/walikota, dan Komite Sekolah oleh Kepala Sekolah. Jumlah pengurusnya, yaitu 15 orang untuk Dewan Pendidikan Nasional, 13 orang untuk Dewan Pendidikan Provinsi, 11 orang untuk Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota,dan untuk Komite Sekolah 15 orang. Masa bakti untuk Dewan Pendidikan adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan, sementara untuk komite sekolah adalah 3 (tiga) tahun, dan dapat dipilih kembali utuk 1 (satu) kali masa jabatan.

Perbedaan PP ini dengan buku Panduan Umum Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah adalah perubahan tentang peran Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.  Jika dalam buku Panduan Umum Dewan Pendidikan disebut dengan 4 (empat) peran, yaitu: (1) advisory agency, (2) supporting agency, (3)controlling agency, dan (4) mediator, maka dalam PP ini tidak lagi disebut adanya peran tersebut. Yang disebut dalam PP adalah tentang fungsi dan tugas, dengan rumusan sebagai berikut: Pasal 192 ayat 2: Dewan pendidikan berfungsi dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan, dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Pasal 192 ayat 4: Dewan pendidikan bertugas menghimpun, menganalisis, dan memberikan rekomendasi kepada menteri, gubernur, bupati/walikota terhadap keluhan, saran, kritik, dan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan.

Anggaran Dewan Pendidikan dalam PP Nomor 17 Tahun 2010,dirumuskan dengan menggunakan rumusan karet dalam Pasal 192 (13) sebagai berikut: Pendanaan dewan pendidikan dapat bersumber dari:

a. pemerintah;

b. pemerintah daerah;

c. masyarakat;

d. bantuan pihak asing yang tidak mengikat; dan/atau

e. sumber lain yang sah.

Tujuan Dibentuknya Dewan Pendidikan

Tujuan utamanya adalah ikut membantu meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan. Dewan Pendidikan merupakan badan yang bersifat mandiri, tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan satuan pendidikan maupun lembaga pemerintah lainnya. Posisi Dewan Pendidikan, Komite Sekolah, satuan pendidikan, dan lembaga-lembaga pemerintah lainnya mengacu pada kewenangan masing-masing berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Pembentukan Dewan Pendidikan  bertujuan yaitu:

a) Mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan dan program pendidikan di kabupaten/kota;

b) Meningkatkan tanggung jawab dan peran serta aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan;

c) Menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di daerah kabupaten/kota dan satuan pendidikan.

Adapun peran yang dijalankan Dewan Pendidikan adalah P3M (Pertimbangan, Pendukung, Pengontrol, Mediator) dengan perincian sebagai berikut:

a) Pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan (Advisory).

b) Pendukung baik yang berwujud finansial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan (Supporting).

c) Pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan (Controlling).

d) Mediator antara pemerintah (eksekutif) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (legislatif) dengan masyarakat (Mediator).

Untuk menjalankan perannya itu, Dewan Pendidikan  memiliki fungsi yaitu mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Badan itu juga melakukan kerja sama dengan masyarakat, baik perorangan maupun organisasi, dunia usaha dan dunia industri, pemerintah, dan DPRD berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Fungsi lainnya adalah menampung dan menganalisis aspirasi, pandangan, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat.

Di samping itu, fungsi Dewan Pendidikan  adalah memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada pemerintah daerah/DPRD dan kepada satuan pendidikan mengenai kebijakan dan program pendidikan dalam mewujudkan 8 Standar Nasional Pendidikan. Dewan Pendidikan  juga berfungsi dalam mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan dan menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. Tetapi yang perlu diingat bahwa peran dewan pendidikan maupun komite sekolah bukan hanya terbatas pada mobilisasi sumbangan, tetapi berperan serta pada hal-hal yang lebih substansial untuk membantu dan mengawasi pelaksanaan pendidikan.

Dewan pendidikan termasuk komite sekolah merupakan lembaga independen yang berfungsi strategis – bukan operasional – dalam proses pelaksanaan pendidikan. Lembaga pendidikan dan pemerintah harus bermitra dan bekerjasama dengan dewan pendidikan dan komite sekolah dalam pelaksanaan pendidikan termasuk pengelolaan pendidikan.

Sebagai fokus perhatian pemantauan dan evaluasi dewan pendidikan maupun komite sekolah dapat dimulai dari gambar berikut ini.

Perhatian utama stakeholder dalam cara memandang, memperlakukan dan mengkonsepsikan bangunan pendidikan harus dengan perspektif input-process-contex-output bukan input-process-output. Dengan gambar di atas pokok sentral ada pada proses pembelajaran, yang lainnya harus mengarah dan diarahkan pada inti persekolahan yaitu proses pembelajaran. Dalam pelaksanaannya input yang lain: isi kurikulum, pendidik dan tendik, saranaprasarana, biaya, pengelolaan dan penilaian sebagai faktor penting yang berinteraksi dengan pembelajaran.

Dewan Pendidikan sebagai Badan Pengontrol (Controlling Agency)

Bagian yang terpenting dalam manajemen adalah controlling. Peran Dewan Pendidikan  sebagai badan pengontrol tentu akan berbeda dengan apa yang dilakukan DPRD Komisi Bidang Pendidikan. Berkaitan dengan pengembangan kinerja ini, perlu dilihat sejauh mana peran pengontrol yang dilakukan Dewan Pendidikan  berjalan dengan optimal terhadap pelaksanaan pendidikan. Beberapa fungsi yang dapat dilakukan Dewan Pendidikan  dalam hubungannya dengan perannya sebagai badan pengontrol terhadap perencanaan pendidikan antara lain: melakukan kontrol terhadap proses pengambilan keputusan di lingkungan Dinas Pendidikan, termasuk penilaian terhadap kualitas kebijakan yang ada. Dewan Pendidikan juga dapat melakukan fungsi kontrol terhadap proses perencanaan, termasuk kualitas perencanaan pendidikan.

Fungsi Dewan Pendidikan dalam melakukan kontrol terhadap pelaksanaan program pendidikan adalah melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan program yang ada pada Dinas Pendidikan, apakah sesuai dengan kebijakan yang disusun. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan program tersebut adalah bagaimana alokasi dana dan sumber-sumber daya bagi pelaksanaan program dilakukan Dinas Pendidikan. Dalam pengembangan kinerja ini, perlu dilihat sejauh mana Dewan Pendidikan melakukan fungsinya dalam mengontrol alokasi dana dan sumber-sumber daya tersebut.

Penuntasan program wajib belajar 9 tahun akan menjadi komitmen bagi seluruh daerah. Karena itu, para pengambil kebijakan di bidang pendidikan tentu telah membuat berbagai kebijakan dan program dalam mencapai program tersebut, dengan tujuan untuk meningkatkan partisipasi pendidikan bagi anak umur 6-15 tahun. Berbagai upaya pemerataan dan perluasan tersebut tentu bukan tanpa halangan, sebab persoalan seperti meningkatnya angka mengulang dan bertahan akan menjadi hal yang serius yang butuh penanganannya, yang akan berakibat pada keluaran pendidikan.

Dewan Pendidikan sebagai badan kontrol dalam hal ini adalah melakukan penilaian terhadap angka partisipasi, mengulang, bertahan, transisi pendidikan di daerah. Hal ini penting sebab penilaian ini akan mampu menjadi evaluasi bagi keberhasilan program wajib belajar 9 tahun. Hasil penilaian sendiri merupakan masukan bagi para pengambil kebijakan dalam rangka penyempurnaan kebijakan dan program dalam rangka peningkatan angka keluaran pendidikan.

Program penuntasan wajib belajar 9 tahun juga tidak mengesampingkan mutu pendidikan. Sementara ini yang menjadi ukuran keberhasilannya adalah nilai pada ujian akhir. Dalam kaitannya dengan ini, Dewan Pendidikan memiliki peran yang penting dalam melakukan pemantauan terhadap penilaian terhadap hasil ujian akhir.

Fungsi kontrol Dewan Pendidikan ini dilakukan melalui bentuk koordinasi dengan Komite Sekolah, karena penilaian terhadap hasil keluaran pendidikan di sekolah-sekolah yang dilakukan oleh Komite Sekolah tersebut akan menjadi masukan bagi Dewan Pendidikan memetakan persoalan dalam pemerataan dan mutu keluaran pendidikan.

Yang tak kalah pentingnya dalam melihat keberhasilan pendidikan adalah bagaimana dampak (outcomes) pendidikan, yang tercermin dalam hubungannya dengan keberhasilan keluaran pendidikan antara lain terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, peningkatan angka tenaga kerja, dan situasi dan kondisi yang sosial budaya yang kondusif. Dampak pendidikan biasanya muncul setelah keluaran pendidikan (output) terjadi beberapa lama. Dalam pengembangan kinerja ini perlu diperhatikan sejauh mana Dewan Pendidikan melakukan penilaian terhadap dampak pendidikan.

Secara keseluruhan indikator kinerja Dewan Pendidikan dalam perannya sebagai badan pengontrol dapat diamati pada Tabel berikut ini.

Tabel :  Indikator  Kinerja Dewan Pendidikan dalam Perannya Sebagai Badan Pengontrol

 

PERAN DEWAN PENDIDIKAN

FUNGSI MANAJEMEN PENDIDIKAN

INDIKATOR KINERJA

Badan Pengontrol (Controlling Agency)

1. Mengontrol perencanaan pendidikan

a. Mengontrol proses pengambilan keputusan di lingkungan dinas pendidikan

b. Mengontrol kualitas kebijakan  di lingkungan dinas pendidikan

c. Mengontrol proses perencanaan pendidikan  di lingkungan dinas pendidikan

d. Mengontrol kualitas perencanaan pendidikan di lingkungan dinas pendidikan

e. Mengontrol kualitas program pendidikan

2. Mengontrol pelaksanaan program

a. Mengontrol organisasi pelaksana pendidikan

b. Mengontrol  penjadwalan program

c. Mengontrol alokasi dana pelaksanaan  program

d. Mengontrol sumber-sumber daya pelaksanaan program

e. Mengontrol partisipasi sekolah dan masyarakat terhadap program.

3. Memantau out put (keluaran) pendidikan

a. Memantau angka partisipasi pendidikan

b. Memantau angka mengulang

c. Memantau angka bertahan

d. Memantau angka transisi

e. Memantau hasil UAN.

4. Memantau out comes (dampak) pendidikan

a. Memantau pertumbuhan ekonomi daerah

b. Memantau ketenagakerjaan di daerah

c. Memantau kondisi sosial budaya daerah.

 

 

Gambar. Pola Hubungan Kerja Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan di Kab/Kota.

Penutup

Lembaga pendidikan merupakan lembaga yang yang melaksanakan investasi sosial yang hasilnya tidak bisa dilihat seketika. Karena itu, lembaga pendidikan perlu dikelola oleh orang-orang yang memiliki kesadaran dan kepedulian yang tinggi pada pendidikan. Selain itu perlu dilaksanakan oleh orang-orang yang memilki panggilan hidup dan makna hidup yang tinggi di dunia pendidikan. Kualitas pendidikan bagus bila pengelolaan dan kepemimpinan di sekolah fokus pada proses pembelajaran peserta didik, sebab pembelajaran adalah ruh dari pendidikan persekolahan, pada jenjang atau level manapun. Dewan Pendidikan sebagai wadah peran serta masyarakat sekaligus sebagai pengawas keterlibatan masyarakat dalam pendidikan perlu didukung dan dilengkapi dengan instrumen kewenangannya. Perannya sebagai badan pengontrol terhadap perencanaan pendidikan antara lain: melakukan kontrol terhadap proses pengambilan keputusan di lingkungan Dinas Pendidikan, termasuk penilaian terhadap kualitas kebijakan yang ada. Dewan Pendidikan juga dapat melakukan fungsi kontrol terhadap proses perencanaan, termasuk kualitas perencanaan pendidikan. Di tingkat sekolah komite dapat sebagai pengawas dengan membandingkan dan mengarahkan kegiatan persekolahan mencapai Standar Nasional Pendidikan yang ada dan mendorong agar melebihi SNP.

Rujukan:

Kepmendiknas Nomor 004/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.

PP Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan

UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sagala Syaiful.2004. Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat, Strategi Pemenangan Mutu, Jakarta: PT Nimas Multima

 

 

 

 

Monday, 06 August 2012 22:04

Best Practice Kepala SMK Ahmad Yani Probolinggo

Written by

 


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perubahan lingkungan sekolah eksternal maupun internal sekarang ini terjadi begitu cepat dan kuat, menyulitkan dan terkadang mengancam keberlangsungan hidup sekolah.Dengan demikian tanpa perubahan diri secara tepat dan signifikan sebuah sekolah tersebut niscaya akan goyah, bahkan akan ditinggal pelanggan internal dan eksternal, mati terlindas roda perubahan. Begitu pula SMK Ahmad Yani yang nasibnya ditentukan oleh dirinya sendiri, dan tidak bergantung pada yang lain.

Pada tahun pelajaran baru 2006, siswa kelas X baru SMK Ahmad Yani ada 7 rombel, ini mengkhawatirkan sebab itu adalah tahun paling sedikit siswa baru yang berminat dan dapat ditampung dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini memang tahun sulit, sebab terjadi perubahan keadaan eksternal dan internal sekolah yang luar biasa.Kebetulan tahun ajaran baru 2007 saya ditunjuk oleh Yayasan untuk menjadi kepala sekolah. Bagi saya itu adalah tugas yang sangat berat sebab banyak hal yang menurut saya perlu dibenahi, baik dari proses pembelajarannya, sarana prasarana, dan pengelolaan terutama adalah pengelolaan SDM, sebab saya menyadari sebagai seorang pemimpin seharusnya pekerjaan pertama adalah pada sumber daya manusia sebab orang menghasilkan strategi, struktur, sistim dan gaya organisasi.

Peran saya sebagai pemimpin berusaha memberikan pengaruh, memotivasi, mengarahkan dan mensinergikan semua potensi sekolah yang saya anggap penting, sebab kepemimpinnan saya dapat sebagai pendorong adanya kegiatan dan perubahan.Sebagai manajer, saya menyadari harus mampu bekerja sama dan melalui orang lain dalam organisasi sekolah. Sebagai target goalnya adalahtingginya kualitas pendidikan yang terjadi di SMK Ahmad Yani yang menghasilkan kualitas belajar peserta didik.

B. Permasalahan

 

1

Masalah merupakan kesenjangan antara yang seharusnya dengan keadaan yang ada. Sebuah sekolah dengan tugas utama menyelenggarakan pembelajaran yang efektif dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang dimaksud akan berpengaruh positif terhadap mutu sekolah bila ada upaya pemenuhan 8 SNP (Standar Nasional Pendidikan). Sehingga untuk merumuskan masalah apa yang ada di sekolah tinggal mengkonfrontirkan saja dengan setiap 8 SNP tersebut.

Permasalahan yang ada pada SMK Ahmad Yani Probolinggo ketika penulis pertama kali diangkat sebagai kepala sekolah adalah:

a. Minimnya kebersamaan dan rendahnya sinergi kerja dan terdapat ketegangan dalam internal pendidik dan tendik, sehingga sering ada gesekan dan benturan perasaan antar mereka.

b. Tidak ada pembagian tugas dan wewenang (job describtion).

c. GTT PNS (guru pinjaman PNS dari sekolah lain) sangat besar.

d. Komunikasi dan informasi antar anggota warga sekolah tidak lancar.

e. Guru tidak terinspirasi dan bergairah dalam melonjakkan pencapaian prestasi peserta didik dan tidak tahu harus berbuat apa agar kompetensi dan profesionalitasnya meningkat.

f. Terdapat geser pelajaran, artinya pelajaran jam terakhir geser maju ke jam pertama bila jam pertama gurunya tidak hadir.

g. Jarang sekali guru yang membuat perencanaan pembelajaran (silabus atau RPP).

h. Kegiatan ekstra kurikuler ala kadarnya.

i. Tidak ada upaya yang jelas dari sekolah untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas pendidik dan tenaga kependidikan.

j. Jumlah peserta didik lima tahun terakhir mengikuti grafik menurun.

C. Strategi Pemecahan Masalah

Strategi adalah tindakan atau kegiatan khusus atau pendekatan yang diambil oleh organisasi untuk mencapai tujuan dan sasaran. Berdasarkan masalah dan harapan yang ada, maka tahapan strategi yang saya gunakan antara lain:

1. Mengidentifikasi masalah dan menganalisa penyebab dan kebutuhan yang diperlukan(need assessment).

2. Memilih dan mengembangkan partner kerja dari guru yang banyak berperan pada tugas-tugas kunci persekolahan (posisi jabatan kunci), misalnya 4 waka dan ketua program keahlian. Mereka direkrut dari personal yang unggul, kompeten atau berprospek baik.

3. Menyusun visi misi sebagai arah, cita cita bersama yang berakar dari prosedur yang benar, dan disosialisasikan secara terencana dan bukan hanya sekedar pemenuhan kebutuhan administratif belaka.

4. Penambahan guru baru full timer. Sekolah swasta seperti SMK Ahmad Yani tidak akan dapat berkembang bila tidak di support oleh guru sendiri yang full timer. Meskipun rekrutmen diperoleh guru muda yang minim pengalaman, asalkan didampingi dengan pendekatan yang tepat dapat menghasilkan yang jauh lebih baik dari perkiraan. Guru pemula masih polos dan bersih, mudah dibentuk dan dipacu prestasinya dengan carapemberdayaan, perhatian dan bimbingandengan suasana kekeluargaan dalam bingkai keprofesionalan.

5. Meningkatkan budaya belajar, mutu dan kerja dengan kepala sekolah sebagai model (contoh). Tentu saja harus dikawal dengan pendampingan dan tagihan hasil dari yang telah dilakukan guru-guru.

6. Pembuatan job describtion yang jelas dan disosialisasikan dengan memampang dimeja atau tempat kerja setiap elemen sekolah.

7. Menyelenggarakan ekstra kurikuler/pengembangan diridengan pengelolaan/manajemen yang baik.Pengembangan diri ini diwajibkan bagi seluaruh kelas X dan bebas memilih bagi kalas XI dan XII.

8. Menghidupkan acara silaturahmi dan kebersamaan antar warga pendidik dan tendik dalam Forum Komunikasi Kekeluargaan (FKK) yang dilakukan dua bulan sekali secara bergantian. Kegiatan lainnya adalah bulutangkis, footsal dan senam sekali dalam seminggu yang dilaksanakan masing-masing jumat malam, senin sore dan minggu.

9. Setiap awal semester bersama tim pengawas Dinas Pendidikan Kota Probolinggo mengadakan workshop pembelajaran. Pada awalnya bertema telaah dan penyusunan silabus dan RPP, kemudian penyusunan perangkat pembelajaran lainnya, dan terakhir dilaksanakan pada akhir bulan Desember 2011 dengan tema Pembelajaran efektif.

10. Meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan sesuai dengan kemampuan. Tentu saja keterbatasan kekuatan keuangan disampaikan secara proporsional dan transparan.

11. Membangun simbol atau ikon perubahan budaya mutu. Upaya yang telah dilakukan antara lain: Membangun Bussiness Center, SMM ISO 9001:2008

12. Membangun komunikasi yang baik dengan semua warga sekolah. Setiap ada kesempatan saya bangun komunikaisi, misalnya face to face dengan guru menanyakan keadaan keluarga, kendala dalam pekerjaan dan sebagainya yang dilaksanakan dengan jujur, apa adanya, tulus dan tanpa rekayasa. Ketika rapat perlu dialokasikan waktu yang cukup untuk penyampaian evaluasi global dan informasi penting oleh kepala sekolah dan waktu yang cukup untuk tanya jawab sehingga terjadi komunikasi dua arah.

13. Memberdayakan (empowering) segenap warga sekolah sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya.

14. Rotasi kepanitiaan kegiatan sekolahmulai dari ketua, sekretaris, koordinator-koordinator dan lain-lain. Rotasi dan pemberdayaan sekaligus pembelajaran bagi pemula akan terjadi dengan baik bila disertai pendampingan dari guru senior dengan tetap pantauan dan koreksi dari kepala sekolah untuk memuluskan sinergi dan estafet trasnsfer pengalaman dan pembelajaran dalam kerja. Harapan berikutnya dari strategi ni adalah pemerataan pengalaman dan menghindari penumpukan pekerjaan pada guru-guru tertentu.


 

]

BAB II

PEMBAHASAN

A. Alasan Pemilihan Strategi Pemecahan Masalah

Kepala sekolah mempunyai dua peran utama yaitu sebagai leader dan sebagai manajer.Untuk mengatasi masalah yang kompleks di SMK Ahmad Yani diperlukan kepala sekolah yang dapat memainkan dua peran tersebut dengan baik.Strategi yang dipakai oleh kepala sekolah seperti yang tersebut pada bab 1 terutama yang terkait dengan pengelolaan SDM. Pertama sekali harus dimulai identifikasi, memilah dan mengembangkan partner kunci yang mempunyai kompetensi unggul, loyalitas dan dapat memimpin pekerjaan dan orang di bawahnya. Ini akan diperoleh melalui dekatnya hati, samanya visi, terbangunnya kepercayaan, tercukupinya kesejahteraan dan merasa diberdayakan.

Kepala sekolah yang kualified dan kompeten akan dapat memberikan pengaruh, memotivasi, mengarahkan dan mensinergikan semua potensi sekolah dianggap sangat penting.Makanya penulis sebagai kepala sekolah berusaha menambah kemampuan atau kompetensinya sehingga mempunyai ketrampilan konsep, ketrampilan teknis dan ketrampilan sosial (hubungan insani). Saya juga berupaya dapat sebagai contoh bagi warga sekolah. Ini bisa dibuktikan dengan menyempatkan kuliah S2 di UM Malang, IAB dan UPM Malaysia, serta beberapa kali diklat ToT master Trainer calon kepala sekolah, ToT Penguatan kepala sekolah di Bogor dan di Malang dan tiga kali sebagai Kepala sekolah Berprestasi juara 1 Kota probolinggo tahun 2009, 2011 dan 2012. Selain dari itu kepala sekolah juga mencoba memberi contoh bagaimana membuat silabus, RPP yang baik, menyusun Panduan Penyusunan Silabus dan RPP, menyusun materi pembelajaran efektif., model dan strategi pembelajaran. Tentu saja harus dikawal dengan pendampingan dan tagihan hasil dari yang telah dilakukan guru-guru.Kalau sudah demikian dia bisa sebagai pendorong adanya kegiatan dan perubahan dan memanaj (mengelola) segala yang terkait dengan persekolahan, mengalokasikan sumberdaya dan mengkoordinasikan perubahan serta membina hubungan atau kontak individu dalam organisasi.

 

5

Para kepala sekolah yang sukses memiliki seni dan gaya khas dalam mencapai prestasi. Keunikan dari kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi lingkungan dimana sekolah yang dipimpinnya berada, seperti geografis, ekonomis, iklim kerja, dan sosio-kulture.

Meskipun demikian, secara umum alasan utama setiap strategi yang digunakan untuk mengatasi semua masalah persekolahan harus menomorsatukan segala yang terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran peserta didik, sebab pembelajaran itu adalah ruh dari pendidikan persekolahan. Pendidikan yang berlangsung di sekolah akan baik jika pembelajarannya baik. Dan pembelajaran berlangsung dengan baik bila dipimpin kepala sekolah yang baik. Dia harus mempunyai kualifikasi dan kompetensi yang cukup agar dapat menjadi leader dan menajer yang efektif. Hal ini dapat ditempuh dengan belajar dan belajar, entah melalui kuliah atau seringnya mengikuti kajian-kajian ilmiah atau rutinnya membaca buku dan membaca gejala segala sesuatu yang terkait dengan pengelolaan pendidikan.

B. Hasil atau Dampak yang Dicapai dari Strategi yang Dipilih

Mengawali tugas sebagai kepala sekolah saat itu, sungguh sangat berat.Karena masih kuatnya kelompok-kelompok yang tidak mau bersatu.Sebab lainnyaadalah penulis harus mengikuti kuliah reguler di UM Malang dengan perkuliahan mulai senin sampai jumat. Dengan niat yang sungguh-sungguh dan mohon kekuatan dan bimbingan dari Alloh penulis jalani seminggu dua sampai tiga kali pulang ke Kota Probolinggo untuk mengurusi sekolah. Berat awalnya tetapi lambat laun Alhamdulillah masalah-masalah krusial diantaranya iklim kerja kondusif, visi misi sekolah mulai difahami, warga sekolah mulai disibukkan dengan tugas utamanya, jumlah guru GTT PNS mulai berkurang, guru-guru dan karyawan kerasan (mau berlama-lama) di sekolah. Hasil atau dampak lainnya antara lain:

1. Masalah cepat teridentifikasi, terklasifikasidan terselesaikan di tingkat bawah.

2. Dengan mempunyai waka dan ketua program keahlian yang sesuai dengan kompetensi dan mempunyai loyalitas terhadap pekerjaan maka program sekolah dapat berjalan dengan lancar sesuai visi, misi sekolah.

3. Bila visi misi sudah jelas dan semua warga sekolah merasa bertanggungjawab untuk mewujudkan sesuai dengan job describtion, maka kendala tinggal takaran teknis saja.

4. Pelajaran jarang kosong dan setiap kegiatan sekolah dapat tertangani dengan baik sebab ketergantungan terhadap GTT PNS relatif kecil.

5. Leluasanya guru beraktualisasi diri dan minimnya resistensi pada pendidik dan tendik serta meningkatnya rasa memiliki dan tanggungjawab.

6. Meratanya pengalaman, kemampuan dan kesempatan melakukan pekerjaan baru.Kepala Sekolah dapat mendelegasikan pekerjaan tidak hanya orang-orang tertentu saja sebab semakin banyak alternatif pilihan.

7. Terselenggaranya kegiatan ekstra kurikuler dengan baik, di antaranya: sepak bola, bola voli, footsal, basket, seni music, pramuka/PMR, silat, tartil Quran, perakitan komputer. Dan pengadaan peralatan musik, membangun lapangan basket, volidan footsal.

8. Yang juga berubah drastis adalah kedisiplinan guru, karyawan dan siswa. Misalnya ditandai dengan jam masuk sekolah yang selalu tepat pukul 06.45, dan pulang sesuai jadwal. Sering mereka masih disibukkan dengan pekerjaan masing-masing usai mengajar. Siswa juga mempunyai catatan disiplin berupa catatan buku siswa. Semua siswa mempunyai poin penilaian. Jika melakukan pelanggaran akan mengurangi poin kedisiplinan.

9. Dua tahun terakhir setiap penerimaan peserta didik baru SMK Ahmad Yani sudah tutup lebih dulu dan menolak sekian banyak calon siswa, padahal SMK, SMA Negeri belum buka pendaftaran.

10. Manajemen administrasi semakin dapat dipertanggungjawabkan, sebab telah diraihnya sertifikat SMM ISO 9001:2008 dari TUV Reinland Jerman pada tahun 2011 dan perolehan Akreditasi dari BAP nilai A pada masing-masing 4 (empat) program keahlian pada tahun 2011.

11. Meningkatnya budaya belajar bagi semua warga sekolah. Hal ini nampak pada semakin tertibnya administrasi guru dan tepat waktunya peneyelesaian materi dan baiknya nilai hasil belajar peserta didik.

C. Kendala-kendala yang Dihadapi dalam Melaksanakan Strategi yang Dipilih

Strategi-strategi yang dipakai dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah secara efektif dan efisien. Meskipun tindakan yang dilakukan menghasilkan kebaikan individu-individu dan organisasi tetap saja ada beberapa kendala, diantaranya:

1. Sulitnya mendekati dan menyamakan kesejahteraan guru dan tendik seperti guru PNS. Andalan sumber dana penyelenggaraan sekolah 90% masih bertumpu pada sumbangan wali murid berupa SPP dan uang pangkal.

2. Lambatnya ijinberkreasi dan inovasi pengembangan dari Bapak-bapak yayasan. Kepala sekolah juga tidak mau dianggap inkonstitusional bila langkah atau kebijakan yang diambil tidak atau belum mendapat restu dari yang sepuh(yayasan).

3. Ada yang menolak perubahan karena takut kehilangan posisi atau bertambah pekerjaan, atau karena faktor kemampuan.

4. Hal yang sulit adalah menempatkan posisi jabatan/pengurus sesuai dengan kemampuan dan hoby seseorang (the right man and the right place).

5. Sering terjadi hijrahnya guru ke sekolah lain karena diterima CPNS, padahal mereka kita rekrut dari guru pemula yang minim pengalaman, sudah matang akhirnya pergi. Akar masalahnya adalah sekolah kami swasta dengan bargaining position kesejahteraan dan masa depan yang lemah.

D. Faktor-faktor Pendukung

1. Jujurnya pengurus yayasan dan bendahara sekolah dalam pengelolaan keuangan sekolah.

2. Budaya disiplin yang relatif tinggi dari warga sekolah

3. Rasa memiliki yang besar dan merasa tidak ada sandaran nasib sehingga muncul semangat jujur, tekun, berani menghadapi tantangan, kreatif dan inovatif agar sekolah tetap surviveuntuk tempat sumber hidup.

4. Animo masyarakat tinggi, terbukti ketika penerimaan peserta didik baru selalu banyak calon siswa yang ditolak.

5. Tempat yang strategis dan sarana prasarana yang ada relatif memadahi.

E. Alternatif Pengembangan

1. Mengembangkan Business Center yang sudah ada sehingga memiliki super market dan usaha lain sebagai tambahan sumber dana penyelenggaraan sekolah.

2. Membangun kolaborasi keterlibatan dan partisipasi aktif antara sekolah dengan masyarakat (wali murid, alumni, DUDI dan pemerintah) dalam mengembangkan mutu sekolah.

3. Melaksanakan Evaluasi Diri Sekolah (EDS) yang valid, untuk bahan pengembangan dan perencanaan.

4. Membangun pemahaman bahwa sekolah ini dapat bersaing dan bersanding dengan sekolah negeri, dan itu bisa diraih dengan kreatif dan inovatif


BAB III

 

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI OPERASIONAL

A. Rumusan Simpulan

1. Kepala sekolah harus mempunyai potensi dan kompetensiyang mempunyai keterampilan,konsep, teknisdan hubungan manusiawi untuk menjadi leader dan manajer bagi sekolah.

2. Perlu disadari bahwa setiap terjadi perubahan selalu ada positif dan negatifnya, tidak akan pernah memuaskan semua pihak. Tetapi yang penting adalah tujuan besarnya berjalan dengan baik.

3. Perubahan bisa terjadi karena faktor dari luar atau dari dalam organisasi, bisa direncanakan dan tanpa rencana, tetapi yang terbaik adalah direncanakan, dilaksanakan dan dikontrol.

4. Perhatian dan upaya sekolah harus menomorsatukan segala yang terkait dengan peningkatankualitas pembelajaran peserta didik terutama pemekaran potensinya, sebab pembelajaran itu adalah ruh dari pendidikan persekolahan.

5. Sekolah pada umumnya termasuk SMK Ahmad Yani mempunyai karakteristik, iklim kerja, budaya, sosio-kulture yang unik, berbeda dengan sekolah lain, ini memerlukan identifikasi dan analisa masalah yang baik dan memerlukan pemimpin dengan strategi, seni dan gayayang khas dalam mencapai prestasi.

B. Rekomendasi Operasional

1. Mulailah dengan identifikasi permasalahan yang ada (need assesment) di sekolah, sebab setiap sekolah mempunyai masalah masing-masing dan tidak sama dengan sekolah lain.

2. Memilih dan mengembangkan partner kerja dari guru inti (personal yang mampu mengembangkan kinerja unggul, yang memberi inspirasi kepada personal lainnya untuk menghasilkan kinerja unggul juga) untuk menempati tugas-tugas kunci persekolahan.

3. Pernyataan visi, misi harus jelas dan sering disosialisasikan sebagai pedoman tujuan bersama dan kemana sekolah diarahkan.


4. Meningkatkan dan alokasikan kemampuan SDM dan sumber daya lainnya.

5. Selalu berkreasi dan berinovasi dan mencoba setiap peluang. Merangsang warga sekolah terutama guru-guru dengan menciptakan kondisi yang menyenangkan dan memberi tantangan-tantangan baru.

6. Mengawasi, mengevaluasi setiap kegiatan dan ada tindak lanjut.

7. Beri rewarddan punishmentyang adil serta berfikir logis dan tegas.

8. Kepala sekolah idealnya adalah orang yang mempunyai kualifikasi dan kompetensi (berkualitas, berkomitmen tinggi dan professional) lebih dibanding guru.

9. Menciptakan iklim sekolah yang kondusif untuk tempat kerja dan belajar.

10. Bila kesulitanmenempatkan posisi jabatan/pengurus sesuai dengan kemampuan dan hoby seseorang, terkadang juga dapat memakai trial and error dengan didampingi yang lebih senior. Semua warga sekolah kalau merasa secara adil diperhatikan dengan cara diberi kepercayaan maka akan bangkit rasa memilki dan loyalitas kepada pimpinan. Pada gilirannya untuk orang-orang yang biasa protes dan tukang-usul dapat dijadikan ajang pembuktian pedasnya protes-usulnya dengan kemampuannya dalam menyelesaikan pekerjaan. Sehingga bila tukang protes-usul ini tidak dipakai lagi karena telah teruji gagal, dan yang lainnya mendapat reward maka tidak akan ada yang dimasalahkan.

11. Selalu membangun mutu komunikasi. Komunikasi ini sangat penting karena melalui komunikasi kita mencoba berbagi informasi, gagasan, atau sikap kita dengan warga sekolah. Komunikasi menempati posisi sentral dalam organisasi, sebab struktur, luasannya, dan lingkup organisasi adalah hampir seluruhnya ditentukan oleh teknik komunikasi. Komunikasi itu sumber hidup setiap organisasi sekolah, adalah sebuah proses yang menghubungkan individu, kelompok, dan organisasi.


Suasana Upacara Bendera Setiap Hari Senin

Bisnis Center Divisi Fotocopy & ATK

Bisnis Center Divisi Spare Part & Service


Copy sertifikat ISO 9001:2008 untuk SMK AHMAD YANI Probolinggo

Copy Nilai Akreditasi 4 Kompetensi Keahlian


A. JUMLAH PESERTA DIDIK 6 Tahun Terakhir

TAHUN PELAJARAN

JUMLAH MURID

TOTAL

2007/2008

Kelas X : 502

1289

Kelas XI : 386

Kelas XII : 401

2008/2009

Kelas X : 422

1193

Kelas XI : 423

Kelas XII : 348

2009/2010

Kelas X : 426

1193

Kelas XI : 366

Kelas XII : 401

2010/2011

Kelas X : 443

1166

Kelas XI : 377

Kelas XII : 346

2011/2012

Kelas X : 464

1185

Kelas XI : 359

Kelas XII : 362

2012/2013

Kelas X :506

1246

Kelas XI :395

Kelas XII:345

B. PENCAPAIAN RATA-RATA NILAI UJIAN NASIONAL

NO

MATA PELAJARAN

2005-

2006

2006-

2007

2007-

2008

2008-

2009

2009-

2010

2010-

2011

2011-

2012

1.

Bahasa Indonesia

5,80

6,57

5,93

6,38

6,53

6,46

2.

Bahasa Inggris

6,37

6,38

5,99

7,30

8,56

8,47

3.

Matematika

6,42

7,34

6,37

6,35

8,68

8,82

4.

Produktif

7,75

7,64

8,09

8,56

9,07

8,97

C. JUMLAHGURU

NO

JENIS GURU

JUMLAH

A.

GURU NORMATIF

13

B.

GURU ADAPTIF

16

C.

GURU PRODUKTIF

1. Teknik Instalasi Tenaga Listrik

4

2. Teknik Mesin

7

3. Teknik Otomotif

6

4. Teknik Komputer & Informatika

6

D.

GURU BK/BP

-

Jumlah

52


D. PENGALAMAN MENGAJAR

PENGALAMAN MENGAJAR

JUMLAH GURU

< 5 tahun

25

5 – 9 tahun

6

10 – 14 tahun

4

15 – 19 tahun

8

20 – 24 tahun

2

> 24 tahun

7

Jumlah

52

 

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Page 1 of 3
You are here