Change Font Size

Change Screens

Change Layouts

Change Direction

Change Menu Styles

Cpanel
Wednesday, 28 December 2011 07:10

Sejarah Komputer

Written by arif kurniawan
Rate this item
(3 votes)

 

Hitung-menghitung sudah menjadi bagian dari Sejarah manusia. Pada zaman prasejarah, lambang bilangan belum ada dan perhitungan dilakukan dengan menggunakan bantuan benda-benda yang ada di lingkungan sekitar, seperti kenkil, batu, pada potongan tulang.

Seiring dengan makin majunya peradaban manusia, ilmu matematika mengalami perkembangan pesat. Manusia pun makin menyadari bahwa perhitungan-perhitungan matematis apalagi yang rumit tidak mungkin selamanya di¬lakukan hanya dengan mengandalkan otak. Maka diciptakan¬lah berbagai alat yang diharapkan mampu membantu dalam menyelesaikan berbagai permasalahan matematis, terutama yang berhubungan dengan hitung-menghitung.

 


Swipoa/Abacus
Sejarah mencatat, alat bantu hitung yang paling pertama diciptakan adalah swipoa (abacus). Sebuah bukti menunjukkan bahwa swipoa telah ada di China sejak tahun 1200-an, walau¬pun banyak arkeolog meyakini bahwa swipoa telah digunakan sejak tahun 300 sebelum Masehi. Hebatnya, swipoa tidak terlindas oleh perkembangan zaman. Sampai sekarang, masih banyak orang yang menggunakan swipoa, bahkan kursus penggunaan swipoa bertebaran di mana-mana.

Pascaline
Kurang lebih 400 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1642, seorang filsuf Perancis bernama Blaise Pascal mencip¬takan sebuah mesin hitung yang diberi nama sesuai dengan namanya, yaitu pascaline. Blaise Pascal lahir pada tahun 1623 dan meninggal pada tahun 1662. Jadi, waktu ia menemukan pascaline usianya baru 19 tahun! Kabarnya, Pascaline dicip¬takan oleh Blaise Pascal demi membantu ayahnya yang sering mengalami kesulitan dalam perhitungan pajak.

Pada eranya, pascaline termasuk alat yang sangat canggih. Karena kecanggihannya tersebut, hanya orang yang memiliki kecerdasan di alas rata-rata saja yang tidak mengalami kesu¬litan untuk mengoperasikannya. Pascaline berbentuk sebuah kotak yang di dalamnya berisi delapan bush roda gigi yang mewakili delapan digit angka.

Penjumlahan dilakukan dengan cara memutar roda gigi ¬roda gigi tersebut. Kelemahan dari pascaline adalah pen¬goperasiannya yang sulit dan hanya dapat digunakan untuk penjumlahan saja. Karena kelemahannya tersebut, pascaline tidak mampu menembus dunia bisnis untuk diproduksi secara massal. Tetapi bagaimana pun, pascaline merupakan tonggak bersejarah bagi mesin-mesin hitung yang diciptakan kemu¬dian.

Kalkulator Leibniz
Sebelas tahun setelah Blaine Pascal meninggal, pada tahun 1673, seorang ahli hukum muda dari Jerman bernama Gott¬fried Wilhelm von Leibniz berhasil menyempurnakan desain pascaline. Leibniz hidup pada rentang tahun 1646-1716. Kalku¬lator leibniz tersebut tidak hanya mampu melakukan penjum¬lahan, tetapi juga mampu melakukan pengurangan, perkalian, dan pembagian. Bentuk fisik kalkulator leibniz tersebut merni¬liki banyak kesamaan dengan pascaline, tersusun dari berbagai macam roda gigi.

Pengoperasian kalkulator leibniz sebenarnya rumit juga. Orang yang mengoperasikannya harus mengerti cara me¬nyusun roda gigi tertentu sehingga didapat hasil yang tepat. Dengan kata lain, seseorang harus mengerti "bahasa pem¬rograman" kalkulator leibniz agar dapat mengoperasikannya.

Namun karena kalkulator Leibniz tersebut mampu melakukan seluruh operasi aritmatika dasar (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pem¬bagian), kalkulator leibniz berhasil menembus pasar walau masih dalam skala kecil.

Arithmometer
Mesin hitung berikutnya dikembangkan oleh Charles Xavior Thomas dari Colmar di Perancis pada tahun 1820. Mesin hitung tersebut masih berdasar pada pascaline dan kalkulator leibniz dan diberi nama arithmometer. Arithmometer adalah mesin hitung pertama yang diproduksi secara masal pada sebuah pabrik.

Difference Engine
Nyaris bersamaan dengan penemuan arithmometer, pada 1812, seorang profesor matematika dari Universitas Cambridge bernama Charles Babbage (1792-1871) menyadari bahwa perhitungan matematis yang panjang dan kompleks selalu membutuhkan langkah-langkah yang berulang (repetisi). Charles Babbage kemudian menghubungkannya dengan cara kerja suatu mesin uap (pada masa itu teknologi mesin masih menggunakan mesin uap) yang dapat bekerja secara beru¬lang-ulang untuk menuntaskan suatu tugas tertentu.

Dengan dasar pemikiran tersebut, Charles Babbage menciptakan suatu mesin (dengan tenaga uap tentunya) yang dapat menyelesaikan suatu persoalan matematis, utamanya untuk kasus-kasus diferensial. Itu sebabnya mesin tersebut diberi nama difference engine.
Difference engine dikembangkan pada tahun 1823 dan boleh dikatakan lebih menyerupai komputer primitif diban¬dingkan dengan mesin hitung atau kalkulator. Pada masa itu, banyak kapal yang tersesat di tengah laut, karena itu differ¬ence engine diharapkan dapat membantu perhitungan navi¬gasi yang rumit untuk mengurangi jumlah kapal yang tersesat.
Sayangnya, satu susunan rangkaian roda gigi pada differ¬ence engine praktis hanya dapat digunakan untuk satu kasus perhitungan. Untuk menyelesaikan kasus yang lain, susunan roda gigi tersebut harus ditata ulang kem¬bali.

Analytical Engine
Karena difference engine tidak praktis, Charles Babbage meninggalkan pengembangan mesin hitung itu dan mengem¬bangkan mesin lain yang disebut analytical engine. Prinsip kerja mesin mekanis ini telah menyerupai sebuah komputer modern karena mengandung unsur-unsur central processing, unit atau prosesor, perangkat lunak, memori penyimpan, dan
output dalam bentuk tercetak. Mesin ini hanya berhenti pada tahap prototipe saja karena teknologi pada zaman itu tidak mampu mengimbangi "kecanggihan" mesin ini.

Analytical engine juga menggunakan semacam kartu yang berlubang-lubang yang dapat dimasukkan dan dike¬luarkan dari mesin. Kartu tersebut berisi berbagai informasi yang dibutuhkan dalam melakukan perhitungan matematis. Di kemudian hari, kartu tersebut merupakan cikal bakal dari disket dan CD.

Ada Augusta King
Sayang seribu sayang, seperti kebanyakan programmer zaman sekarang, Charles Babbage kurang mendokurnentasi¬kan ide-ide briliannya kala pengembangan analytical engine, Beruntung ada seseorang yang mampu merangkum ide-ide Charles Babbage yang dicetuskan pada berbagai kesempatan kuliah yang diberikannya. Orang itu adalah Ada Augusta King, Countess of Lovelace. Ada hidup pada rentang tahun 1815¬-852 dan perangkuman konsep Charles Babbage tersebut dilakukannya pada sekitar tahun 1842.

Ada bahkan menambahkan sendiri berbagai pengem¬bangan dalam rangkuman tersebut yaitu konsep-konsep mengenai subroutine (instruksi yang dapat dipergunakan lagi), looping (suatu kumpulan instruksi yang dijalankan berulang-ulang), dan conditional jump (instruksi melompat ke arah tertentu apabila dijumpai suatu kondisi). Karena konsep-¬konsep yang dikembangkannya tersebut, Ada disebut sebagai programmer pertama yang pernah ada.

Seorang tokoh lain yang juga memiliki andil dalam sejarah pengembangan komputer adalah Alan Turing (1912-1954). Pada tahun 1936, Alan Turing memublikasikan sebuah paper berjudul "On Computable Numbers, with an application to the Entscheidungs problem" yang berisi ide-idenya tentang sebuah mesin universal (universal machine) yang mampu menyelesaikan berbagai masalah algoritma melalui konsep komputabilitas, bukan konsep pemrosesan simbol seperti yang dicetuskan oleh para pendahulunya.

Colossus
Dari tahun 1936 sekarang kita melompat ke-tahun 1941 ketika Penang Dunia II sedang berlangsung. Negara-negara yang terlibat perang berlomba-lomba menciptakan komputer. Inggris mengembangkan komputer yang khusus digu¬nakan untuk memecahkan kode-kode rahasia pihak Jerman. Komputer tersebut diberi nama Colossus. Namun karena kegu naannya yang sangat spesifik tersebut, apalagi keberadaannya dirahasiakan oleh pemerintah, Colossus tidak berkernbang lebih lanjut.

Z Series
Jerman sendiri melalui Konrad Zuse (1910--1995), seorang insinyur, mengembangkan komputer yang diberi nama Z series. Komputer Z series yang terakhir adalah Z4. Pada tahun
1941, Pernerintah Jerman menugaskan Konrad Zuse untuk mendesain pesawat terbang dan peluru kendali menggunakan komputer Z series tersebut. Waktu itu yang digunakan adalah Z3.

IBM Mark I
Amerika Serikat, yang selalu merasa diri superior, tentu saja tidak mau kalah. Dengan bantuan Howard H. Aiken (1900-1973), seorang seorang insinyur Harvard yang bekerja untuk IBM, Amerika Serikat memproduksi kalkulator elektron¬ik yang digunakan untuk US NAVY.
Ukuran kalkulator tersebut kira-kira setengah lapangan sepak bola dan kabel-kabel yang ada di dalamnya jika diren¬tangkan akan mencapai panjang 500 mil. Kalkulator tersebut diberi nama The Harvard-IBM Automatic Sequence Controlled Calculator atau Mark I. Kalkulator tersebut menggunakan si¬nyal elektromagnetik untuk menggerakkan komponen me¬kanik.

Kelemahan mesin tersebut adalah kecepatan operasinya yang rendah, yaitu sekitar 3-5 detik untuk setiap langkah kalkulasi. Selain itu, urutan kalkulasi tidak dapat diubah. Kele¬bihannya, kalkulator tersebut dapat melakukan perhitungan aritmatik dasar dan persamaan yang lebih kompleks.

ENIAC
Selain mengembangkan Mark I, pada tahun 1941 pemer¬intah Amerika Serikat mengembangkan suatu jenis komputer yang prinsip kerjanya berbasis pada difference engine. Mesin tersebut diberi nama ENIAC (Electrical Numerical Integrator and Calculator). Tahun 1941 jelas sudah jauh lebih modern dibandingkan pada tahun 1823, karena itu ENIAC tidak lagi menggunakan roda gigi dan dligerakkan oleh uap, namun ENIAC sudah menggunakan energi listrik.

ENIAC tersusun dari 18.000 tabung oakum (hampa udara), membutuhkan ruang sekitar 1.800 kaki persegi atau sekitar 167,2255 meter persegi, dan membutuhkan daya listrik sebesar 180.000 Watt. Mirip difference engine yang roda giginya harus disusun ulang ketika perhitungan baru hendak dilakukan, saklar-saklar serta perkabelan ENIAC juga harus disusun ulang. Media penyimpan ENIAC telah dilengkapi kemampuan baca tulis pada sebuah media penyimpan dengan waktu akses rela¬tif kecil, yaitu sekitar 0,0002 detik.
ENIAC cukup ngetop pada rentang tahun 1946 hingga 1955 dan diterima sebagai Electronic Digital Computer (EDC) yang pertama.

John von Neumann
Terkesan dengan kesuksesan ENIAC, seorang ahli matema¬tika bernama John von Neumann (1903-1957) menggagas dua buah konsep yang nantinya akan mengubah pola pengem¬bangan bahasa pemrograman untuk selama-lamanya.
Konsep yang pertama adalah "shared-program tech¬nique", menyebutkan bahwa perangkat keras komputer haruslah simpel dan susunan kabelnya tidak perlu diubah hanya untuk melakukan perhitungan baru. Sebaliknya, kom¬puter haruslah dikontrol oleh sebuah instruksi komputasi yang kompleks. Kerumitan instruksi komputasi tersebut akan impas dengan didapatkannya bentuk komputer yang simpel.
Konsep yang kedua adalah "conditional control transfer", yang menyatakan akan pentingnya sebuah subroutine atau sebuah blok kecil program yang dapat dipergunakan beru¬lang-ulang.
Selain itu John von Neumann juga mengadakan dua macam studi tentang komputer yaitu, yang pertama: kompu¬ter seharusnya memiliki bentuk yang sederhana dan struktur fisiknya tetap, dan yang kedua: mampu melakukan berbagai analisis perhitungan tanpa harus mengubah susunan unit komputer tersebut.

 

 

Last modified on Monday, 05 March 2012 22:16
arif kurniawan

arif kurniawan

Mimpi masa kini adalah kenyataan hari esok.

Website: www.smkahmadyani-pbl.sch.id E-mail: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

1 comment

  • Comment Link Ahmad Budi Santusa Wednesday, 04 January 2012 23:45 posted by Ahmad Budi Santusa

    wagus...

    wagus sukali

    This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Login to post comments
You are here